Jumat, Mei 09, 2008

Menjadi Pribadi Yang Bijak

Satu ciri ketakwaan seseorang kepada Allah adalah sifat bijak dalam kehidupannya. Yaa Ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min dzakariw wa untsa wa ja'alnaakum syu'uubaw waqabaa-ila li ta'aarafuu inna akramakum'indallahi atqaakum innallaha 'aliimun khabiir (Qs.Al-Hujuraat ayat 13). "Hai sekalian manusia sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah yang lebih taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti". Ciri orang yang bertaqwa adalah dia merupakan orang yang bijaksana. Pertanyaan pertama ketika kita bercermin adalah apakan diri ini sudah bijak, jika jawabannya belum maka jadikanlah hal ini sebagai sebuah cita-cita.
Jika ada yang mengatakan rindu pemimpin yang bijak, jika kita mengatakan bahwa bangsa ini krisis keteladanan, maka jangan mencari teladan karena susah untuk ditemukan, untuk itu yang paling mudah adalah menjadikan kita sebagai tauladan paling tidak untuk keluarga, janganlah menuntut untuk mendapatkan presiden yang bijak karena akan susah untuk didapat, karena itu yang dapat kita lakukan adalah menuntut diri kita sendiri. Orang yang bijaksana itu merupakan suatu keindahan tersendiri, misalkan ketika menjadi seorang guru yang bijak biasanya sangat disukai oleh murid-muridnya. Seorang pemimpin yang bijak biasanya ia disegani oleh kawan maupun lawan, jika orang tua bijaksana maka akan dicintai oleh anak-anaknya.
Pada dasarnya kebijakan ini tidak susah untuk dimiliki. Ud'u illa sabiili rabbika bil hikmati wal mau 'izhatil hasanati, wa jaadilhum billatii hiya ahsanu inna rabbaka huwa'alamu bi man dhalla 'an sabilihii wa huwa a'lamu bil muhtadiin. Artinya: "Serulah kepada jalan (agama) Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara sebaik-baiknya, sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk".
Sumber kearifan dan kebijaksanaan dapat datang dari :
1. Sikap hidupnya yang siddiq yaitu orang yang sangat menyukai kebenaran, sekuat tenaga hidupnya berusaha berbuat benar dan selalu ingin membuat orang menjadi benar, semangat didalam hati akan cinta terhadap kebenaran, istiqomah dalam kebenaran dan ingin orang juga memiliki sikap yang benar maka hal tersebutlah yang membuat orang menjadi bijaksana.
2. Sikap hidup yang amanah, rasa tanggung jawab karena hidup yang hanya sekali dan ingin mempertanggung jawabkan hidup ini baik sebagai anak, ayah, orang tua, anggota masyarakat, sikap amanah ini timbul dari dalam jiwa kita.
3. Sikap hidup Fathonah, berwawasan luas, berilmu luas jadi begitu banyak pilihan sikap yang merupakan buah dari kecerdasan.
4. Sikap hidup yang Tabligh adalah dapat menyampaikan sesuatu dengan baik kebenaran. Sehingga menyebabkan mendapatkan sesuatu yang diinginkan tanpa merusak tatanan yang ada.

BAGAIMANA CARA MENJADI ORANG UANG BIJAK
1. Tidak Emosional, hal itu berarti orang yang temperamental, mudah marah, meledak-ledak, gampang tersinggung, sulit menjadi bijaksana dan hanya dapat menjadi bijak dengan pertolongan Allah dan kegigihan usaha untuk berubah, jadi orang yang bijak adalah orang yang terampil mengendalikan diri. Berhati-hatilah jika kita termasuk orang yang mudah marah maka jika bertindak biasanya cenderung tergesa-gesa. Orang-orang yang emosional tersinggung sedikit akan sibuk membela diri dan membalas menyerang, ini tidak bijaksana karena yang dicari adalah kemenangan pribadi bukan kebenaran itu sendiri.
2. Tidak egois, orang yang egois jelas tidak akan dapat menjadi bijak, karena bijak itu pada dasarnya ingin kemaslahatan bersama, orang yang egois biasanya hanya menginginkan kebaikan untuk dirinya sendiri. Rasulullah selalu hidup dalam pengorbanan, begitu pula Indonesia dapat merdeka oleh orang-orang yang berjuang penuh pengorbanan. Orang yang bijak adalah orang yang mau berkorban untuk orang lain bukan mengorbankan orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri.
3. Suka cinta dan rindu pada nasihat, akan sangat bodoh jika kita masuk hutan tanpa bertanya kepada orang yang tahu mengenai hutan. Jika kita di beri nasihat seharusnya kita berterima kasih. Jika kita tersinggung karena di sebut bodoh maka seharusnya kita tersinggung jika disebut pintar karena itu tidak benar. Jika kita alergi terhadap kritik, saran, nasehat atau koreksi maka kita tidak akan bisa menjadi orang yang bijak. Jika seorang pemimpin alergi terhadap saran atau nasehat, bahkan memusuhi orang yang mengkritik, maka dia tidak akan pernah bisa memimpin dengan baik.
4. Memiliki kasih sayang terhadap sesama, Rasa sayang yang ada diharapkan tetap berpijak pada rambu-rambu yang ada seperti ketegasan. Diriwayatkan bahwa orang yang dinasehati oleh Rasulullah secara bijak berbalik menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Orang-orang yang bijak akan sayang terhadap sesama. Berbeda dengan orang-orang yang hidup penuh dengan kebencian, dimana kepuasan bathinnya adalah menghancurkan orang lain. Pemimpin sebaiknya memiliki kasih sayang yang berlimpah tidak hanya pada waktu kampanye saja. Kasih sayangnya juga tidak hanya untuk satu pihak atau kelompok melainkan merata untuk semua golongan.
5. Selalu berupaya membangun, Orang yang bijak tidak hanyut oleh masa lalu yang membuat lumpuh tetapi selalu menatap ke depan untuk memperbaiki segalanya. Orang yang bijak akan membangkitkan semangat orang yang lemah, menerangi sesuatu yang gelap. Jika melihat orang yang berdosa, maka ia akan bersemangat untuk mengajak orang tersebut untuk bertaubat. Orang yang bijak ingin membuat orang maju dan sangat tidak menyukai kehancuran dan kelumpuhan kecuali bagi kebathilan. Semangat orang yang bijak adalah semangat untuk maju tidak hanya untuk dirinya tetapi juga bagi orang lain disekitarnya.
Jadi yang dibutuhkan pada seorang pemimpin bijak adalah pribadi yang tidak emosional, tidak egois, penuh kasih sayang, cinta akan nasihat dan memiliki semangat terus menerus untuk membangun dirinya, ummat serta bangsa ini, dia tidak akan peduli walaupun dibalik kebangkitan yang ada dia mungkin akan tenggelam. Pemimpin yang bijak tidak peduli akan popularitas dan tidak peduli dengan adanya pujian manusia karena kuncinya adalah ketulusan dan tidak mengharapkan apapun dari yang telah di lakukan, adalah tidak akan bisa bijak jika kita mengharapkan sesuatu dari apa yang kita lakukan. Kita hanya akan menikmati sikap bijak jika kita bisa memberikan sesuatu dari rizki kita, bukannya mengharapkan sesuatu dari yang kita kerjakan.
Alhamdulillaahirobbil’alamin

Meraih Sukses
Sumber: Arsip Artikel - Telaga Rasul

Hikam:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu lupakan bagianmu dari kenikmatan duniawi dan berbuat baiklah kepada orang lain. Sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 77)
"Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah dari orang mukmin yang lemah." (Al-Hadist)
Kita diciptakan oleh Allah bukan untuk menjadi pecundang, tapi kita telah disiapkan oleh Allah, berpotensi untuk sukses. Tidak hanya pada ukuran dunia tapi juga untuk ukuran akhirat.
Rasulullah tidak hanya di akhirat tapi didunia juga sukses. Beliau tidak mau menjadi beban bagi orang lain. Usia 12 tahun sudah melakukan perjalanan untuk berdagang dan pada usia 25 tahun telah menjadi seorang pemuda yang bermutu akhlaknya dan terpercaya pribadinya.
Rasul merupakan pemuda yang sukses, karena pada saat memberikan mas kawin atau mahar pada Siti Khodijah, Rasul memberikan sebanyak 20 ekor unta muda yang artinya pada saat itu telah menjadi seorang pengusaha kaya raya yang sangat sukses.
Untuk menjadi pribadi yang sukses maka kita harus "tenang" karena keyakinan akan adanya kekuasaan Allah. Lalu, "terencana" dalam melakukan sesuatu, baru "tawakal". Kemudian "terampil" dalam berkerja; "tertib" dalam kehidupan; "tekun" dan "istiqamah" dalam mengatasi kejemuan; "tegar" dan sabar dalam menerima musibah dari berbagai macam kejadian; "tawadhu" atau rendah hati, karena kesombongan merupakan sarana yang paling efektif untuk menjatuhkan martabat kita.
Kesuksesan sejati adalah ketika kita berhasil meyakini semua ini adalah milik Allah, yang membuat kita menjadi tawadhu dan rendah hati, terus-menerus membersihkan hati dan terus meningkatkan kemampuan untuk mempersembahkan yang terbaik, yang terlihat dari kemuliaan akhlak dan sempurnanya amal dengan hati yang ikhlas. Insya Allah kita akan mendapatkan kesuksesan di dunia dan akhirat. (imm)


Kiat Berterimakasih (Syukur)
Sumber: Arsip Artikel - Telaga Rasul


Semoga di bulan Ramadhan yang penuh barokah ini kita digolongkan menjadi orang yang tenggelam dalam samudera nikmat Allah, sehingga tiada yang kita lihat selain nikmat dari Allah dan hanya hutang demi hutang untuk bersyukur kepada Allah swt.
Hikam:
"Mengapa Allah akan menyiksa kamu, jika kamu bersyukur dan beriman kepada Allah. Allah adalah Maha Mensyukuri dan Maha Mengetahui." (Al-Qur`an surat An-Nisa: 147)
Rasulullah saw bersabda: "Yang paling pandai bersyukur kepada Allah adalah orang yang pandai bersyukur kepada manusia." (HR. Imam Tabrani)
Pada umumnya manusia ketika mendapat harta yang berlimpah selalu sibuk dengan hartanya, lupa bahwa harta hanyalah titipan dan bukan miliknya. Manusia seperti ini termasuk kedalam golongan orang yang paling rendah.
Golongan orang yang termasuk beruntung adalah orang yang bersyukur akan harta yang dititipkan Allah kepada nya tetapi masih senang dan bangga dengan harta titipan Allah swt. Golongan orang ahli syukur sejati yaitu orang yang ketika mendapat harta, pangkat, kedudukan, gelar dan lain-lain. Yang dia ingat hanyalah karunia Allah dan untuk menambah kedekatannya kepada Allah.
Anak yang berbakti kepada orang tua adalah termasuk orang yang ahli bersyukur, dengan menyebut dan mengenang jasa orang lain kita sudah termasuk bersyukur kepada Allah swt. Orang tua yang mensyukuri Anaknya karena Allah yaitu orang tua yang mendidik anaknya, agar dekat kepada Allah swt.
Seorang guru merupakan jalan ilmu bagi orang lain, salah satu yang akan menjadi cahaya di dalam kubur diantaranya ilmu, selain amal jariyah dan anak yang soleh. Yang paling penting bagi seorang guru adalah tidak hanya mengajar tapi menjadi contoh bagi murid-muridnya.
Bersyukur kepada Allah tidak hanya bicara, tapi pribadinya menjadi suri tauladan bagi semua orang. Bagi orang yang tidak bersyukur maka nikmatnya akan berubah menjadi adzab Allah yang pedih dan hilang ketentramannya. Sirnanya kebahagiaan karena kita tidak melihat semuanya ini dari Allah dan kurang mensyukuri karunia Allah.
Semoga kita termasuk orang yang pandai mensyukuri akan nikmat Allah swt. (imm)

Kokoh dan Indahnya Silaturahmi
Sumber: Manajemen Qolbu Online


Alhamdulillaahirabbil'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad waala aalihi washaabihii ajmai'iin, Saudaraku yang budiman, seiring berlalunya bulan Ramadhan yaitu bulan penuh dengan hikmah, marilah kita jalani kehidupan kembali ke fitrah kita, sebagai insan Allah SWT. Dengan semangat yang baru, terutama diawali dengan

Pertama, Meningkatkan Silaturahmi
Hikmah dari sikap Nabi Muhammad selalu berbeda jalan ketika berangkat dan pulang dari masjid adalah karena beliau setiap waktu ingin selalu memperbanyak silaturahmi dengan umatnya. Artinya kitapun harus memiliki budaya yang sama yaitu upayakan memiliki jadwal dan cara khusus untuk bersilaturahmi dengan sebanyak mungkin kalangan, baik yang sudah dikenal ataupun yang belum. Baik yang akrab maupun yang tak menyukai kita.
Andai saja kita tahu kedahsyatan manfaat silaturahmi, niscaya sepanjang waktu ini rasanya ingin selalu bersilaturahmi. Setidaknya silaturahmi yang baik akan menambah saudara baru dan mempereratnya, menambah wawasan dan ilmu serta semakin menambah kekuatan bagi ukhuwah kita. Sering sekali terjadi salah paham karena lemahnya komunikasi akibat jarangnya bersilahturami. Pendek kata silahturami yang teratur dan terprogram dengan baik adalah bagian kunci suksesnya ukhuwah kita ini.

Kedua, Kirimlah Hadiah
Nabi Muhammad Saw, sudah mengisyaratkan bahwa berkiriman itu akan menambah rasa sayang dan memang kenyataannyapun demikian. Bila ada yang berkirim sesuatu yang bermanfaat bagi kita, pada umumnya akan senang hati dan merasa hutang budi, cenderung lebih memaafkan dan mempererat hubungan.
Oleh karena itu, kita harus memiliki program pengadaan dana untuk hadiah kepada orang tua, tetangga, kawan dekat, dan siapapun yang kita harapkan dapat bersinergi dalam ukhuwah ini. Tentu saja semuanya ini harus sangat terjaga, keikhlasannya. Biasakanlah setiap kali memiliki makanan, tetanggapun ikut menikmatinya. Jauh sangat lebih baik kita makan hanya separuh dari makanan sendiri dan sebagian yang lain dinikmati saudara seiman lainnya dari pada kenyang sendiri dan orang lain tak mendapatkan apapun.

Ketiga, Jauhi Perdebatan walaupun Benar
Jujur saja sebetulnya perdebatan yang banyak terjadi tampaknya bukan sedang mencari kebenaran tapi lebih dekat kepada mencari kemenangan pendapatnya sendiri, hal ini tampak dari cara dan bentuk percakapannya yang lebih menjurus pada berbantah-bantahan secara emosi, kata yang saling menyerang dan bau permusuhan saling menyudutkan, jauh dari cara kajian ilmiah yang penuh etika.
Maka sekiranya kita ada dalam situasi yang tak sehat ini menghindar dari berdebat bukanlah suatu tindakan menghindar dari kebenaran, melainkan menghindar dari peluang bangkit dan berkobarnya suasana permusuhan, berpalinglah dan carilah topik bahasan yang lebih mempersatukan.
Tentu saja bukan tidak boleh mengadakan diskusi pemecahan masalah, namun harus didasari kesiapan mental yang baik, kesiapan ilmu yang memadai, dan kesiapan mendengar serta berbicara yang baik pula, Insya Allah akan datang petunjuk Allah dalam mecari kebenaran.

Keempat, Selalu Berusaha Mendahului Menegur, Mengucapkan Salam, Berjabat Tangan Dengan Ramah Dan Tulus.
Dengan kata lain, praktekkan lima (5) S senyum, sapa, salam, sopan, dan santun. Insya Allah interaksi kita kepada siapapun akan jauh lebih bermakna jikalau wajah kita senantiasa diliputi senyuman, sapa penuh kelembutan, dan akhlak yang penuh kerendahan hati akan memikat setiap orang yang kita jumpai. Alangkah indahnya wajah yang jernih, ceria, senyum yang tulus dan ikhlas, membahagiakan siapapun.
Betapa nyamannya suasana saat salam hangat ditebar, saling mendo’akan, menyapa dengan ramah, lembut dan penuh perhatian. Alangkah agungnya pribadi kita, jika penampilan kita selalu sopan dengan siapapun dan dalam kondisi bagaimanapun. Betapa nikmatnya dipandang, jika pribadi kita santun, mau mendahulukan orang lain, rela mengalah dan memberikan haknya, lapang dada, pemaaf yang tulus, dan ingin membalas keburukan dengan kebaikan serta kemuliaan. (and/aep)***

Kembali Kepada Kesucian
Sumber: Arsip Artikel - Telaga Rasul

Hikam:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya." (QS. Ar-Ruum: 30)
Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya setiap yang dilahirkan dalam keadaan suci."
Kita dilahirkan kedunia dalam keadaan fitrah tidak dibebani dosa sebesar apapun dan Allah. Itu memberikan kita potensi untuk berbuat baik dan buruk. Diantara fitrah Allah yaitu kita butuh menuhankan sesuatu dan bagi yang benar maka dia berhasil menuhankan Allah. Namun adapula yang salah dalam bertuhan misalnya menuhankan kekuasaan, harta dan kedudukan.
Sebenarnya kekuasaan, harta dan kedudukan adalah karunia dari Allah yang dititipkan kepada kita. Orang yang kembali kepada fitrah adalah orang yang kembali menuhankan Allah, karena setiap kita menuhankan sesuatu selain Allah kita akan diperbudak oleh yang kita tuhankan dan kita akan menjadi sangat hina. Jadi bulan ramadhan ini hendaklah kita jadikan dunia hanya sebagai tempat singgah, bukan tujuan untuk kita sembah karena kita akan kembali kepada Allah swt.
Kemudian adalagi fitrah Allah yaitu kita membutuhkan tuntunan dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Rasulullah saw. Maka bagi yang ramadhannya berhasil dia ingin lebih mengetahui tentang rasul, mensuritauladani dan hidup seperti yang dituntunkan rasul. Semakin kita yakin bahwa semua yang kita dapat datangnya dari Allah maka kita akan menjadi sabar, ikhlas, tawadhu dan menikmati hidup dengan hati yang bersih.
Hendaklah diakhir bulan ramadhan kita bersyukur kepada Allah karena sudah dapat menjalani bulan ramadhan, memperbanyak takbir, tahmid dan sambil memohon kepada Allah agar dapat dipertemukan kembali pada bulan ramadhan yang akan datang.
Makin kurang ilmu yang kita miliki makin mudah goyah keimanan kita dan makin banyak ilmu yang kita miliki makin kokoh kita dalam menghadapi hidup ini. (imm)

Indahnya Kesederhanaan (1)
Sumber: Majalah KalamDT - Daarut Tauhiid Jakarta

Bismillaahirrahmanirrahiim,

Innalhamdalillah nahmaduhu wanasta'inuhu wanastaghfiruhu wana'udzubillahi min syururi anfusina wamin syaia'ti a'malina man yahdillahufala mudhillallah waman yudhlilhufalahadiyalah. Allohumma sholli wassaliim wabaarik ala syaidina muhammad wa 'ala alihi wa ashhabihi ajma'in. Amaba'du.

Semoga Allah SWT yang menggenggam langit, bumi berikut segala isinya mengaruniakan kepada kita kemampuan mengolahnya dengan benar, sehingga bisa membuat diri kita sejahtera dan mensejahterakan orang lain, dan yang paling penting semoga kita diberi kemampuan mewariskan yang terbaik yang bermanfaat bagi generasi sesudah kita. Amin ya Allah ya Rabbal 'alamiin.
Saudaraku beberapa waktu yang lalu kita mendengar tentang krisis BBM, padahal sebelumnya kita dikenal sebagai penghasil minyak lambat laun kita semakin mengerti bahwa kita adalah bagian dari importir minyak dan subsidi yang dikeluarkan begitu besar, saya dengar untuk satu liter minyak tanah itu dipasaran luar katanya sampai 72 dollar per barel, artinya 4000 rupiah/liter. Setiap kita beli minyak tanah maka disubsidi jadi kalau sehari kita menghabiskan 10 liter minyak tanah maka subsidi untuk kita adalah 40000 rupiah. Begitu juga solar dan bensin hitungannya sampai triliun-triliun. Karena kita bukan pejabat, hanya rakyat saja maka solusinya bukan solusi kaya pejabat, melainkan solusi rakyat saja.
Alangkah ruginya andaikata krisis BBM yang meguras begitu banyak uang kita, uang bangsa ini, tidak sampai menjadi pelajaran yang dapat merubah diri kita, ingat kesepakatan kita, apapun yang terjadi ujungnya hanya satu yaitu merubah diri kita menjadi lebih baik. Kalau kita ingin merubah bangsa ini menjadi bagus, awalilah dengan merubah diri kita sendiri. Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara begitu besar pengorbanan harta, jiwa, dan raga.
Alangkah ruginya apabila badai tersebut tidak merubah diri kita, artinya krisis BBM ini harusnya menjadi sebuah momentum agar kita bisa berubah. Tidak akan rugi Man kana yaumuhu khoiron min amsihi fahuwa robihuun… . artinya: "Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia adalah orang yang beruntung". Andaikata krisis bangsa dapat merubah diri kita, maka berapapun biaya yang dikeluarkan tidaklah rugi, tapi kalau subsidi kita lebih besar dan tidak merubah bangsa kita maka kita bangsa yang rugi, apalagi ketika subsidi yang besar tapi malah membuat bangsa kita lebih jelek berarti kita bangsa celaka, itu tidak boleh terjadi.
Adik saya kemarin menasehati kalau ingin bagus jangan BOBO, apa jangan BOBO? jangan Bocor dan jangan Boros. Anggap saja sekarang negara Indonesia itu keluarga kita. Jadi kalau kita bisa menganalisa mengapa kita ini sengsara ?

Penyebab hidup boros diantaranya :
I. Karena kejahilan dan kebodohan kita.
Karena kita kurang ilmu, kurang pengetahuan bisa menyebabkan boros. Nah saudaraku sekalian, pernah saya berbincang dengan tukang becak yang sedang sedih. "Pusing Mang, tidak cukup untuk biaya anak-anak, susah sekarang mencari nafkah, buat rokok aja tidak cukup". Lalu saya tanya "memangnya Mang berapa penghasilan?", "kadang Rp.12.000,- kalau merokok daripada pusing, berapa sebungkus?", "justru itu sekarang Rp. 5.000,-", "sehari berapa bungkus?", "orang lain mah 3 bungkus, Mang mah cuma 2 bungkus". Berarti Rp.5.000 X 2 = Rp.10.000,-X sebulan,=Rp. 300.000,- , jika dikali setahun menjadi 3.600.000,-, itu belum termasuk korek apinya, belum baju bolong, karena tidak pandai berhitung dengan baik. Anak bayaran Rp.10.000,- tidak dapat dibayarkan sehingga dikeluarkan dari madrasah, tapi kalau untuk merokok Rp.300.000,-sebulan bisa. Banyak diantara kita yang tidak mengerti resiko apa yang kita lakukan karena kejahilan kita. Makin kita kurang ilmu, makin kurang pengetahuan, makin berpeluang hidup boros, makanya negara-negara kurang ilmu sudah miskin boros lagi.
II. Penyakit gengsi
Berapa banyak diantara kita memiliki barang bukan karena perlu, tapi karena gengsi. Handphone, motor, mobil… pernah ada disebuah komplek seorang isteri uring-uringan karena tetangga kanan-kirinya punya mobil, "saya tidak terima pak mereka itu karyawan lebih rendah dari bapak, tapi mereka punya mobil, saya menderita, setiap tengok kiri-kanan saya nelangsa karena mobil tetangga", akhirnya beli mobil yang catnya bagus, tapi karena tidak tahu mini bus ini punya kekhususan yaitu tiap dipakai rusak karena ternyata mantan angkot. Tidak dipakai gengsi, dipakai gaji ludes untuk memperbaiki. Berapa banyak kita memiliki barang hanya karena ingin dihargai orang lain. Budaya gengsi adalah budaya boros, budaya ingin dipuji, budaya ingin dihormati, budaya ingin selalu tampil keren adalah budaya boros dan budaya nyiksa diri. Ada yang tidak mau naik ojek, masa direktur naik ojek, memangnya kalau direktur naik ojek turun jabatan. Bahkan tidak sedikit yang naik jabatan juga naik kemuliaan karena tidak gengsi.


Indahnya Kesederhanaan (2)
Sumber: Majalah KalamDT - Daarut Tauhiid Jakarta

III. Budaya hidup yang tidak tertib.
Sederhananya berapa banyak pengeluaran kita hanya karena sepatu hilang, pakai kaos kaki, buka kaos kaki dimana saja, waktu habis, emosi tersulut, kaos kaki tidak ketemu,gara-gara tidak tertib. Berapa banyak diantara kita yang menanggung biaya besar hanya karena tidak tertib, beli alat elektronik tidak dibaca aturan pakainya colok aja, eh kenapa berasap ya itu korsleting namanya karena tidak tertib. Mau pergi tidak tertib, tidak punya peta jalan akhirnya macet kesana-sini sudah pergi jauh tersesat waktu habis, tidak tertib tidak punya persiapan. Mau telephone tidak pernah dicatat dulu yang akan kita hubungi, begitu diangkat salah sambung. Banyak yang harus kita pikul karena gaya hidup yang tidak tertib, kerudung diseterika tidak tertib, jadinya bolong bekas setrikaan. Banyak kita mengeluarkan biaya untuk hal yang tidak perlu karena kita tidak punya perencanaan yang bagus, kita tidak punya SOP (Standard Opersional Prosedur) yang baik.
IV. Malas
Karena pemalas ini tetap makan, kalau dia malas kerja tapi tidak makan enggak apa-apa. Maka orang yang punya fisik, punya otak, punya waktu tapi malas dia boros karena dia jadi beban. Maaf bagi saudara yang pekerjaannya sebagai pengangguran, harus cepat-cepat berusaha mencari pekerjaan karena kalau saudara nganggur itu beban. Hati-hati budaya ingin untung ladang enteng ini juga termasuk pemborosan.
V. Kurang iman.
Karena orang yang kuat imannya, dia sadar setiap yang dimiliki akan dihisab, akan dihitung dan dia sadar betul bahwa orang-orang yang boros "Innal mubaziriina kanu ihwanu sayathiin", Sesungguhnya orang yang mubazir para pemboros itu adalah saudara-saudaranya syaithan. Maka orang-orang yang imannya kurang dia enak saja beli apa saja yang dia mau, dia lakukan apa saja yang dia suka, tapi bagi orang yang kuat imannya saya mengeluarkan ini akan dihisab oleh Allah SWT. Nah, jadi ibu-bapak ini mohon maaf ya, bagaimana solusinya? Mulai sekarang jangan melakukan apapun yang tidak kita mengerti. Kalau mau beli handphone harus hitung berapa pulsanya, jangan gaya dan tidak ngerti. Mungkin sudah dengar cerita Aa tentang ahli telephone dari Korea. Boleh diulang sedikit, diundang ke Korea ditemani oleh seorang pemuda ahli handphone, saya lihat handphonenya ternyata handphonenya sederhana, tidak berwarna, tidak ada kamera, karena yang beliau butuhkan dari handphonenya adalah suaranya.

Kiat hidup efisien: ...................
I. Jangan melakukan sesuatu kecuali sudah faham
Lebih baik dianggap bodoh tapi benar daripada kita melakukan yang salah. Mau berangkat ke kantor, mau berangkat pulang kampung, tanya dulu kalau jalan kesini buntu atau tidak?. Tidak boleh melakukan sesuatu dengan kira-kira, melakukan sesuatu yang tidak dimengerti. Orang yang melakukan sesuatu tanpa pemahaman dia akan menimbulkan masalah setidaknya boros.
II. Lupakan gengsi.
Kita tidak akan terhormat dan bahagia karena gengsi, kita nikmati hidup ini proporsional (bersahaja), nikmati yang ada, jangan lelahkan keluarga kita karena ingin dipuji tetangga, karena ingin dipuji teman kantor, karena ingin dipuji oleh teman sekolah. Kebahagiaan itu milik kita dan tidak boleh dicuri karena ingin dipuji orang lain. Kita hanya boleh punya barang dirumah ini karena manfaat, bukan karena ingin, karena perlu bukan karena senang. Kalau kita memiliki barang karena ingin, karena senang maka ketahuilah bahwa yang namanya ingin tidak ada ujungnya, yang namanya senang dalam sekejap bisa berubah. Semakin ingin dihargai semakin ingin dipuji semakin ingin dihormati semakin mudah menipu diri dan semakin sengsara karena sakit hati.

III. Mari kita budayakan hidup tertib.
Kalau orang tertib itu enak, efisien. Kalau mau pergi ditulis dengan baik, mau belanja juga. Jangan sampai pergi tanpa perencanaan ini yang menyebabkan boros. Biasakan disiplin, mau pergi harus tahu kalau jalan ini macet, jalan alternatifnya mana? Kalau jalan ini macet naik apa? membutuhkan biaya berapa? manusia yang tidak memiliki perencanaan cenderung hidupnya boros. Saudaraku kalau bisa sedikit kenapa harus banyak? bagi kita menghemat bukan perkara uang, bagi kita hemat karena kita tidak mau jadi saudaranya syaithan. Orang yang boros itu saudaranya syaitan, syaitan makhluk terkutuk. Perkara rezeki itu karunia Allah, tapi hidup kita memang harus hemat. Pakaian, kenapa kita harus berganti-ganti kalau bisa sedikit kenapa harus banyak? makanan kenapa dimeja makan kita harus banyak lauk pauk? Tidak perlu banyak yang terpenting bergizi. Termasuk datang keundangan, ini menjadi perhatian tolong buat tulisan "lebih baik nambah daripada bersisa".
Jadi perilaku seperti ini bukan semata-mata kita menghemat uang tapi ini perilaku muslim harusnya memang seperti ini. Tentang jalan, waktu haji terbukti bahwa jalan 2 km itu menyehatkan, setiap langkah niatkan sehat, setiap langkah istighfar, sholawat, tasbih selain berdzikir sehat. Menghemat, badan sehat, oleh karena itu sesulit apapun keadaan pilihannya hanya satu jadikan kesulitan sebagai sarana perubahan diri kita menjadi lebih baik.
Khusus untuk BBM, setuju tidak kalau kita budayakan lagi naik sepeda? wah kalau bisa badan lebih sehat, kami mencoba. Yang biasanya buat susah itu karena gengsi. Naik sepeda lebih efisien daripada kita gaya tapi tekor, mending bersahaja tapi bonafid. Dinegara-negara lain walikotanya itu kalau kekantor tidak dibawa mobilnya malah naik kendaraan umum karena disana fasilitasnya sudah mendukung makanya efisien. Dibeberapa negara lain juga karena memang fasilitasnya sudah nyaman dan aman. Pejabat, dosen kalau ke kampus naik sepeda kalau kekantor naik sepeda. Walikotanya saja demikian apalagi rakyatnya. Biasakan jadikan sikap hidup hemat sebagai amal soleh hidup kita semua Insya Allah barokah.

Sumber: Buletin InfoDT Jakarta

Minggu, Mei 04, 2008

Memory Cinta Di Jalan Dakwah

Banyak dari kita mengganggap bahwa orang boleh saja mencintai dan dicintai, tapi urusan jodoh ada ditangan Allah SWT. Oleh sebab itu, kita tidak perlu beranggapan bahwa bila kita mencintai seseorang, maka ia adalah jodoh kita, karena cinta boleh memilih sementara jodoh tidak. Jodoh sudah merupakan takdir yang tidak dirubah. Kita tidak perlu pusing mencari jodoh, apalagi memilikinya. Bila Allah Swt. Memberikan jodoh yang idial, maka kita akan mendapat jodoh yang baik. Namun bila Allah memberi kita jodoh yang tidak baik, maka kita pun harus menerimanya sekalipun hidup bersimpah derita.

Anggapan itu menyesatkan. Bila Allah memberi kita naluri untuk mencintai, bukan berarti tanpa tanggungjawab dan main-main belaka, karena mencintai juga berarti berani menanggung resiko untuk bertanggungjawab. Begitupun dalam masalah jodoh, sekalipun Allah menetapkan pasangan laki-laki itu adalah perempuan, namun siapakah laki-laki dan perempuan itu dan bagaimana orangnya, itu dicari dan dipilih untuk kita. Sebagai halnya bahwa rizki itu ditangan Allah, tetapi Allah Swt sendiri memerintahkan kita mencari dan memilih rizki itu.

Dan bahwasannya Dia-lah yang menciptakan laki-laki dan perempuan berpasang-pasangan, dari air mani, apabila dipancarkan”.(QS. An Nam: 45-46).

Dan Allah telah menjadikan jodoh-jodoh kamu sekalian dari jenismu sendiri, lalu menjadikan anak-anak dan cucu bagi kamu dari jodoh-jodohmu”.(QS. An Nahl: 72).

Allah Swt, tidak akan merubah nasib seseorang sebelum ia merubahnya sendiri.”(QS. Ar Ra’du: 11).

Dan diantara tanda-tanda tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar Ruum: 21)

Nabi Muhammad Saw bersabda:

Bukanlah orang yang terbaik diantara kalian orang yang rajin beribadah mencari pahala akhirat dengan meninggalkan aktivitas bekerja untuk kepentingan kehidupan dunia. Dan bukan pula orang yang terbaik di antara kalian orang yang rajin bekerja dengan meninggalkan aktivitas beribadah. Orang yang terbaik di antara kalian adalah yang menjalankan keduanya: rajin bekerja dan rajin pula beribadah. Sebab kekayaan bisa menjadi sarana kebahagiaan akhirat. Oleh karena itu janganlah kalian menjadi manusia pemalas.”(HR. Ibnu Asaki dari Anas).

Kita tentu ingat sabda Rasulullsh Saw.

(Biasanya) wanita itu dinikahi karena hartanya, kecantikannya, keturunannya dan agamanya (keislamannya). Pilihlah agamanya agar kamu selamat.” (HR> Bukhari).

Hadist ini mendorong untuk ikhtiar mencari jodoh dan memilihnya mana yang idial menurut pandangan agama Allah Swt. Mungkin kita perlu kembali menoleh kehikmah dianugerahkannya cinta kepada manusia agar kita mampu memahami dan menyikapi secara arif dan lurus di jalan-Nya.

Menurut Abdullah Nasih Ulwan (1996: 15), adanya cinta memberi banyak hikmah, diantaranya:

  1. sesungguhnya cinta itu merupakan ujian yang berat dan pahit dalam kehidupan manusia, karena setiap cinta akan mengalami berbagai macam rintangan. Apakah seseorang akan menempuh cintanya dengan cara terhomat dan mulia? Ataukah ia akan menolak atau menerimanya? Apakah ia benar-benar tertarik atau sekadar main-main saja? Semuanya dapat diketahuai diterpa rintangan dan ujian.

  2. bahwa fenomena cinta yang telah melekat didalam jiwa manusia merupakan pendorong dan pembangkit yang lebih besar didalam melestarikan kehidupan lingkungan. Ada cinta, maka manusia ada.

Cinta itu manis bagai gula. Karena cinta, dunia begitu indah, hujan dengan dinginnya dan matahari dengan panasnya akan menjadi sahabat atas nama cinta. Dalamnya lautan dan luasnya samudera manjadi tak berarti karena cinta. Cinta membuat manusia membangun gedung pencakar langit dan terbang menembus langit serta mampu menembus bumi. Karena cinta juga manusia mampu membuat karya spektakuler yang dikenang sepanjang masa. Cinta juga yang mempengaruhi manusia membanguan sebuah peradaban dan menciptakan karya-karya (penemuan-penemuan) monumental. Cinta membuat semua manjadi mungkin. Itulah cinta yang jadi rebutan manusia sepanjang masa.

Cinta mengubah pribadi seseorang dalam sekejab mata,. Cinta membuat muka masam jadi berseri, kantong tipis jadi terasa tebal dan sebaliknya kantong tebal menjadi kosong, dan penakut menjadi pemberani. Cinta yang menyebabkan seseorang tak merasakan sakit, derita menjadi jalan keluar bahkan yang membuat seseorang menggerakkan mesin. Ibarat angin yang mampu bergerak super elestis. Ibarat matahari yang mampu menerangi semesta. Cinta adalah nafas kehidupan.

  1. bahwa fenomena cinta merupakan factor terjadinya interaksi romantis antar sesame manusia. Dengan cinta, manusia bisa saling mengenal, manyayangi, menjaga, saling manasehati dalam hak dan bathin, serta beradadalam kenajuan hidupo yang pesat. Menurut para psikolog, cinta adalah himpunan nilai-nilai kamanusiaan yang didalamnya menjelma makna hakiki dari kata “manusia”. Manusia yang tidak mampu mencintai akan kehilangan makna sebagai manusia. Karenanya, hilangnya cinta adalah kehancuran bagi manusia. (Dr. Muhammad Qarni,2002).

  2. bahwa cinta melahirkan karakter dan perilaku yang berbeda dengan kakuatan yang berbeda pula. Dengan cinta manusia bisa menjadi makhluk yang baik, sekaligus dengan cinta bisa menjadi makhluk yang rakus dan biadab. Namun cinta dengan dasar keimanan akan melahirkan keajaiban dan kekaguman, merubah hidup buram menjadi terang, dan menjunjung kehormatan dan kemuliaan. Karenanya, cinta akan menajadi kekuatan yang mengangkat manusia menajadi makhluk yang mulia bila didasari oleh keimanan dan daya istiqomah yang kuat untuk tetap berada di jalan Allah Swt.

Mengapa hanya orang mukminlah yang aakan memperolah kesejatian cinta dan kemurnian hasil cinta itu? Mengapa hanya orang mukmin yang mampu ikhtiar untuk memperoleh jodoh ideal? Juga mengapa hanya orang mukmin yang memperoleh manisnya cinta hingga keakhirat kelak? Jawabannya adalah karena:

  1. seorang mukmin telah menyakini bahwa Allah Swt adalah Rabb yang mengurus dan memelihara hidupnya. Oleh karena itu, tidak alasan untuk menaatinya, apalagi manyakini ada Tuhan selain-Nya.

  2. Seorang mukmin telah menyakini bahwa Allah Swt, Maha tahu tentang segala sesuatu, oleh karena itu, tidak ada alasan untuk mengubar nafsu, berbuat sekehendak hati, tanpa rasa malu, dan mendobrak aturan Allah Swt.

  3. Seorang mukmin menyakini bahwa Allah Swt, Maha bijak Dalam segala hal, oleh karena itu, ia tidak akan menolak apapun yang telah ditetapkan-Nya, tidak akan kufur dengan apa yang telah di anugerakan kepadanya, dan selalu bersyukur dengan nikmat yang telah diberikan-Nya.

  4. Seorang mukmin menyakini bahwa Allahlah yang mengatur dan membuat hukum, batapapun tingginya kedudukan manusia, tetap tidak akan membuat hukum yang mampu mengatur alam semesta. hal itu karena manusia memiliki keterbatasan dan banyak dipengaruhi oleh fakto-faktor yang berputar di sekelilingnya, seperti lingkungan, perasaan, nafsu, fanatisme, keraguan, bahkan dimensi plitik yang di anutnya. Oleh kerena itu, bagi seorang mukmin, tidak ada alasan untuk membuat hukum sendiri menandingi hukum Allah Swt. Juga tidak ada alasan untuk menolak hukum-hukum Allah Swt.

Firman-Nya:

Siapapun yang mengikuti hidayah-Ku, ia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka. Maka barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku, ia akan mendapat kehidupan yang sempit.” (QS.Thaha: 123-124).

Maka tanyakanlah kepada diri kita sendiri:

“Patuhkah aku mencari hakim selain Allah ? padahal Dialah yang telah menurunka Al-qur’an kepada kalian dengan terperinci”. (QS. Al Na’am: 14).

Renungkanlah firman-Nya:

Pernahkah kamu kalaian melihat seorang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkan sesat berdasarkan ilmu-Nya? Allah telah menguci mati pendengarannya dan hatinya, dan meletakan penutup pada penglihatannya. Maka barang siapakah yang akan memberi petunjuk setelah Allah membiarkan dalam sesatan? Lantas, mengapa kalian tidak mengambil hikmah?” (QS. Al Jatsiyah: 23).